Kamis, 05 Juli 2012

Sebuah Prolog 2


24 februari 2012

derit pintu seiring terbuka dengan senyuman
sapaan ringan bercampur nada asing bergumam bersamanya
hanya bisa duduk dan diam melihat keadaan yang ada
sebuah kepolosan dan imam bonjol menjadi saksi sebuah keputusan
melangkah kedalam keyakinan, namun beriringan dengan keraguan
adakah pertanyaan yang muncul, namun sebuah tawa yang menyapa

pertanyaan menjadi teman setia sarapan diufuk timur
kaki enggan melangkah, namun hati seakan mendorong semakin jauh
pelan, namun menjadi sebuah keputusan, keyakinan dan tanggung jawab
hujan dan kabut menjadi langkah awal menembus dinginnya tekad
angin sering kali berbagi cerita diantara kami
merangkai sebuah tanya dan menjadi sebuah episode tak berujung

perlahan, dan akhirnya terbuka, sebuah keyakinan didalam pilihan ini
sedikit lari dan terbuang diantara terjalnya karang yang ada
sedikit menangis diantara tawa dan senyum yang mengikuti
dan akhirnya menjadi sebuah pertanyaan baru yang semakin mengikuti
diam, menjadi pilihan yang paling bijak untuk menjadi pengecut
maju, namun terbunuh menjadi sebuah pilihan yang tak perlu ada

duduk diam, memrangkai makna yang tersembunyi diantara mimpi
melempar batu dan akhirnya tertawa menengok kembali ke pintu
bukan sebuah sisi idealis yang muncul, namun sebuah pilihan yang kembali ada
bersama seiring langkah yang semakin tertutup,
berdiri berlari dan terjungkal ke dalam lubang tikus
sesak menusuk sela-sela dada, dan terhenti turun ke ulu hati

suara-suara semakin jauh menghilang, tangan pun tak ada yang menggapai
hening kembali menjadi musuh yang setia menemani
sesaat tertegun lalu kembali bernafas, mungkin tangan sudah tak tergapai
namun hati dan fikiran tak akan pernah hilang
berganti membayangi langkah yang terhapus perlahan
semua terhenti pada satu titik, ini hanya sebuah proses

Tarian Sebuah Tanya


23.54-14 february 2012

dimanakah ini? sebuah dunia? ataukah semacam cerita?
ketika semua tertawa dan menangis lalu hidup dan akhirnya mati.
apakah ini? kenyataan kah? sandiwara kah?
dengan nama sebuah cinta, menjadi seorang diktator
sebuah kediktatoran terhadap makna cinta itu sendiri.
siapakah kita? manusia? ataukah tubuh tak bertuan?
yang menggerogoti nama "TUHAN" dengan kesombongan kita.

kita bergerak dengan porsi dan distorsi yang indah
membentuk sebuah cerita dan narasi sebuah proses
melawan arus pergerakan hati dan jiwa, membungkus sendi yang sepi ini
lalu seketika kita terdiam, melihat semua kesemuan ini seakan nyata
tertawa dan menangis disaat bersamaan,
membungkus diri dengan tangan-tangan yang lupa akan "Tuannya"
namun berlari dalam iringan proses yang kita sebut sebuah "takdir"
inikah pertanyaan yang ada? atau hanya sekedar asumsi?

kantung-kantung jiwa menjadi busuk, bernanah namun selalu tertawa dalam kepalsuan
meringis sebuah kotak kecil dalam nadi, menjalar mencari pintu keluar
sempit memang, tak lebih dari sebuah prasangka yang ada
dan akhirnya malampun tiba, dengan sejuta pesona rintih di ujung lorong
lalu gerak lemas disudut asap sebuah jembatan beriringan terbang ke neraka
akhirnya tak ada yang tahu, semua membisu menjawab sebuah jawaban yang ada
kabut perlahan turun menghantarkan lelah langkah,
yang merangkak diantara terangnya kolong jembatan dan sudut pasar yang kumuh

sudahkah anda tertawa dengan bait-bait sumbang ini?
ataukah hanya sebuah kesombongan yang terjawab?
ini sebuah pena yang selalu bergetar, melihat kebawah sebuah jawaban
menatap ke atas dalam sebuah kesalahan, mengingat siapa kita berada
diksi-diksi menjadi sebuah asumsi dan tanya yang subyektif
akhirnya kita sendiri yang menyadari nya,
tak ada jawaban untuk jawaban-jawaban itu sendiri.

Topeng Itu Wajahku


jerami yang rapi tersandar disudut ruangan itu,
derit bambu-bambu usang nan tua iringi langkah hari ini,
namun suara orkestra nampak terdengar keras dijemariku
memandangi lantai tanah yang berganti keramik itali
pesan ibu menjadi setitik elegi masa lalu,
yang kini sibuk dengan lalu lalang di dalam otak ini

disebrang jalan terlihat kaki-kaki beralas jemari
menapaki tiap jengkal lingkaran kertas bertinta emas
peluit menderu memojokan besi tua yang terbalas upeti
pemegang palu bermain bidak beralaskan tubuh yang lemas
suasana ini tetap hening disaat semua bersautan kembali
jeruji pun menjadi istana megah tak beralas

duduk bersimpu pada dada, kepala tertunduk dalam tanya
tangan lemas mencengkram erat kedua kakiku yang sayu
ada hal yang tak bisa terjelaskan dalam sebuah cerita
tentang hal-hal yang perlahan berlalu dan terganti waktu
namun inilah aku, bukan orang lain dan bukan mereka
inilah aku yang belajar untuk tak punya rasa malu

tawa kerasku membuncitkan perut dan tubuh ini
tangisan memberikanku kekuatan untuk semakin tertawa
kelaparan mengajarkanku untuk menjadi lupa diri
kematian semakin membutakan seluruh isi kepala
kekayaan mentertawakan kemiskinanku sendiri
yang akhirnya tersisa hanya jerami tua terbungkus asa

ingin aku buka, sedikit saja pintu yang tersisa
untuk sekedar bercerita tentang makna yang tak kupahami
dan berdendang diatas lantai tanahku yang ada
menari bercerita diantara senyum ibu dan diri ini
sebelum akhirnya aku menutup semua buku kehidupan yang ada
dan membuka topeng wajahku yang selama ini tersembunyi. 

Rabu, 04 Juli 2012

Rencana pemindahan ibukota negara indonesia dari jakarta, (Desember, 12, 2009)


            SBY tengah memikirkan lokasi baru pusat pemerintahan. Kalau seperti Malaysia itu tanggung dan tidak sepenuh hati. Cuma 40 km. Sehingga sebagian tidak pindah rumah dan akhirnya jadi jauh dan macet.
Harusnya seperti Brazil yang memindahkan ibukotanya begitu jauh dari Rio de Janeiro ke Brasilia, atau Amerika Serikat dari New York ke Washington DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn ke Berlin. Karena jauh akhirnya pada pindah rumah. Kalau dekat, misalnya di Jonggol atau Sentul, niscaya orang Tangerang, Bogor, Jakarta, Bekasi, Depok tetap tinggal di rumahnya dan berkantor di ibukota baru. Jalan jauh dan kemacetan pun terus berlangsung.
           Pemindahan Ibukota Negara Indonesia dari Jakarta. Pertama-tama kita harus sadar bahwa pemindahan ibukota dari satu kota ke kota lain adalah hal yang biasa dan pernah dilakukan. Sebagai contoh, Amerika Serikat pernah memindahkan ibukota mereka dari New York ke Washington DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn ke Berlin, sementara Brazil memindahkan ibukotanya dari Rio de Janeiro ke Brasilia. Indonesia sendiri pernah memindahkan ibukotanya dari Jakarta ke Yogyakarta. Over Populasi (Jumlah penduduk melebihi daya tampung) merupakan penyebab utama kenapa banyak negara memindahkan ibukotanya. Sebagai contoh saat ini Jepang dan Korea Selatan tengah merencanakan pemindahan ibukota negara mereka. Jepang ingin memindahkan ibukotanya karena wilayah Tokyo Megapolitan jumlah penduduknya sudah terlampau besar yaitu: 33 juta jiwa. Korsel pun begitu karena wilayah kota Seoul dan sekitarnya jumlah penduduknya sudah mencapai 22 juta. Bekas ibukota AS, New York dan sekitarnya total penduduknya mencapai 22 juta jiwa. Jakarta sendiri menurut mantan Gubernur DKI, Ali Sadikin, dirancang Belanda untuk menampung 800.000 penduduk. Namun ternyata di saat Ali menjabat Gubernur jumlahnya membengkak jadi 3,5 juta dan sekarang membengkak lagi hingga daerah Metropolitan Jakarta yang meliputi Jabodetabek mencapai total 23 juta jiwa. Jadi pemindahan ibukota bukanlah hal yang tabu dan sulit. Soeharto sendiri sebelum lengser sempat merencanakan pemindahan ibukota Jakarta ke Jonggol.
                 Kenapa kita harus memindahkan ibukota dari Jakarta? Apa tidak repot? Apa biayanya tidak terlalu besar? Jawaban dari pertanyaan ini harus benar-benar tepat dan beralasan. Jika tidak, hanya buang-buang waktu, tenaga, dan biaya. Pertama kita harus sadar bahwa ibukota Jakarta di mana lebih dari 80% uang yang ada di Indonesia beredar di sini merupakan magnet yang menarik penduduk seluruh dari Indonesia untuk mencari uang di Jakarta. Arus urbanisasi dari daerah ke Jakarta begitu tinggi. Akibatnya jika penduduk Jakarta pada zaman Ali Sadikin tahun 1975-an hanya sekitar 3,5 juta jiwa, saat ini jumlahnya sekitar 10 juta jiwa. Pada hari kerja dengan pekerja dari wilayah Jabotabek, penduduk Jakarta menjadi 12 juta jiwa.
Jumlah penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi diperkirakan sekitar 23 juta jiwa. Padahal tahun 1986 jumlahnya hanya sekitar 14,6 juta jiwa (MS Encarta). Jika Jakarta terus dibiarkan jadi ibukota, maka jumlah ini akan terus membengkak dan membengkak. Akibatnya kemacetan semakin merajalela. Jumlah kendaraan bertambah. Asap kendaraan dan polusi meningkat sehingga udara Jakarta sudah tidak layak hirup lagi. Pohon-pohon, lapangan rumput, dan tanah serapan akan semakin berkurang diganti oleh aspal dan lantai beton perumahan, gedung perkantoran dan pabrik. Sebagai contoh berbagai hutan kota atau tanah lapang di kawasan Senayan, Kelapa Gading, Pulomas, dan sebagainya saat ini sudah menghilang diganti dengan Mall, gedung perkantoran dan perumahan.
Hal-hal di atas akan mengakibatkan:
  1. Jakarta akan jadi kota yang sangat macet
  2. Dengan banyaknya orang bekerja di Jakarta padahal rumah mereka ada di pinggiran Jabotabek, akan mengakibatkan pemborosan BBM. Paling tidak ada sekitar 6,5 milyar liter BBM dengan nilai sekitar Rp 30 trilyun yang dihabiskan oleh 2 juta pelaju ke Jakarta setiap tahun.
  3. Dengan kemacetan dan jauhnya jarak perjalanan, orang menghabiskan waktu 3 hingga 5 jam per hari hanya untuk perjalanan kerja.
  4. Stress meningkat akibat kemacetan di jalan.
  5. Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) juga meningkat karena orang berada lama di jalan dan menghisap asap knalpot kendaraan
  6. Banjir dan kekeringan akan semakin meningkat karena daerah resapan air terus berkurang.
  7. Jumlah penduduk Indonesia akan terpusat di wilayah Jabodetabek. Saat ini saja sekitar 30 juta dari 200 juta penduduk Indonesia menempati area 1500 km2 di Jabodetabek. Atau 15% penduduk menempati kurang dari 1% wilayah Indonesia.
  8. Pembangunan akan semakin tidak merata karena kegiatan pemerintahan, bisnis, seni, budaya, industri semua terpusat di Jakarta dan sekitarnya.
  9. Tingkat Kejahatan/Kriminalitas akan meningkat karena luas wilayah tidak mampu menampung penduduk yang terlampau padat.
  10. Timbul bahaya kelaparan karena over populasi dan sawah berubah jadi rumah, kantor, dan pabrik. Saat ini pulau Jawa yang merupakan pulau terpadat di dunia 7 x lipat lebih padat daripada RRC. Kepadatan penduduk di Jawa 1.007 orang/km2 sementara di RRC hanya 138 orang/km2. Tak heran di pulau Jawa banyak orang yang kelaparan dan makan nasi aking.
Untuk itu diperlukan penyebaran pusat kegiatan di berbagai kota di Indonesia. Sebagai contoh, di AS pusat pemerintahan ada di Washington DC yang jumlah penduduknya hanya 563 ribu jiwa. Sementara pusat bisnis ada di New York dengan populasi 8,1 juta. Pusat kebudayaan ada di Los Angeles dengan populasi 3,9 juta. Pusat Industri otomotif ada di Detroit dengan jumlah penduduk 911.000 jiwa. Di AS kegiatan tersebar di beberapa kota. Tidak tertumpuk di satu kota. Sehingga pembangunan bisa lebih merata.
              Indonesia juga harus begitu. Semua kegiatan jangan terpusat di Jakarta. Jika tidak, maka jumlah penduduk kota Jakarta akan terus membengkak. Dalam 10-20 tahun, Jakarta akan jadi kota yang mati/semrawut karena jumlah penduduk yang terlampau banyak (saat ini saja kemacetan sudah luar biasa).
Biarlah Jakarta cukup menjadi pusat bisnis. Untuk pusat pemerintahan, sebaiknya dipindahkan ke Kalimantan Tengah.

Kenapa Kalimantan Tengah? Kenapa tidak di Jawa, Sulawesi, atau Sumatra?
Pertama Jawa adalah pulau kecil yang sudah terlampau padat penduduknya. Luas pulau Jawa hanya 134.000 km2 sementara jumlah penduduknya sekitar 135 juta jiwa. Kepadatannya sudah mencapai lebih dari 1.000 jiwa per km2. Apalagi pulau Jawa yang subur dengan persawahan yang sudah mapan seharusnya dipertahankan tetap jadi lahan pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan di Indonesia. Kalau dipaksakan di Jawa, maka luas sawah akan berkurang sebanyak 50.000 hektar! Produksi beras/pangan lain akan berkurang sekitar 200 ribu ton per tahun! Indonesia akan semakin kekurangan pangan karenanya. Selama ibukota tetap di Jawa, pulau Jawa akan semakin padat dan pembangunan tidak tersebar ke seluruh Indonesia. Jawa sudah kebanyakan penduduk/over-crowded!
Ada pun pulau Sumatera letaknya relatif agak di Barat. Dengan jumlah penduduk lebih dari 42 juta, pembangunan di Sumatera sudah cukup lumayan.
                Sulawesi dengan luas 189.000 km2 dan jumlah penduduk sekitar 15 juta jiwa masih terlalu kecil wilayahnya. Sumatera dan Sulawesi adalah pulau yang subur dan cocok untuk pertanian. Jadi sayang jika pertumbuhan jumlah penduduk dipusatkan di situ. Belum lagi kedua wilayah ini rawan dengan gempa bumi dan tsunami. Ada pun Kalimantan luasnya 540.000 km2 dengan jumlah penduduk hanya 12 juta jiwa. Pulau Kalimantan jauh lebih luas dibanding pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi dan jumlah penduduknya justru paling sedikit. Di pulau Kalimantan juga tidak ada gunung berapi dan merupakan pulau yang teraman dari gempa. Sementara di pesisir Kalimantan Tengah yang berbatasan dengan Laut Jawa juga ombak relatif tenang dan aman dari Tsunami. Ini cocok untuk jadi tempat ibukota Indonesia yang baru. Sebaliknya Jakarta begitu dekat dengan gunung Krakatau yang ledakkannya 30 ribu x bom atom Hiroshima dengan tsunami setinggi 40 meter. Efek ledakan Krakatau terasa sampai Afrika dan Australia. Sekarang gunung Krakatau yang dulu rata dengan laut telah “tumbuh” setinggi 800 meter lebih dengan kecepatan “tumbuh” sekitar 7 meter/tahun. Sebagian ahli geologi memperkirakan letusan kembali terulang antara 2015-2083. Jadi Jakarta tinggal “menunggu waktu” saja…

sumber: http://juandry.blogspot.com

Terusan Kra: Apa Artinya bagi Kawasan Ekonomi Khusus Batam-Bintan-Karimun dan Sabang ?


Oleh: Bonnie Setiawan

Posisi Strategis Terusan Kra
Banyak orang tidak begitu mengetahui di mana Terusan Kra (tanah genting Kra) ini, dan apa pentingnya sehingga bisa mengubah geo-ekonomi global (khususnya Asia Timur). Kita tahu Asia Timur saat ini semakin hari semakin menjadi pusat ekonomi dunia, seiring dengan semakin turunnya pengaruh AS sebagai negara adidaya (terutama akibat krisis akhir-akhir ini) maupun belum naiknya Eropa (Uni-Eropa) sebagai pusat ekonomi baru. Banyak yang mengatakan bahwa kelompok negara-negara G-7 (AS, Kanada, Eropa Barat, Jepang) akan segera disaingi oleh kelompok BRIC (Brazil-Russia-India-China). Mereka adalah negara-negara yang sungguh-sungguh mampu berdikari (berdiri diatas kaki sendiri) dan punya tradisi otonom dari Barat. Terutama Russia dan China akan bangkit luar biasa. Ini semua mengindikasikan akan terjadinya perubahan geo-ekonomi global secara mendasar dalam waktu dekat ini.

Terusan Kra adalah salah satu fenomena penting. Terletak di perbatasan antara Burma (Myammar) dan Thailand, ini adalah jembatan darat sempit yang menghubungkan Semenanjung Melayu dengan daratan Asia. Bagian timur dari jembatan darat ini milik Thailand, dan bagian barat milik Myanmar divisi Taninthary. Di barat tanah genting ini adalah Laut Andaman, di timur adalah Teluk Thailand. Bagian paling sempit antara  sungai Kra dan teluk Sawi dekat kota Chumpon memiliki lebar 44 km, dan memiliki ketinggian maksimum 75 meter di atas permukaan laut. Tanah genting ini dinamai dari kota Kra Buri, di Provinsi Ranong di Thailand, yang terletak di barat dari bagian tersempit. Sudah sejak tahun 1677 Raja Thai Narai mempunyai ide untuk membangun jalan air yang menghubungkan Songkhla dengan Marid (sekarang Myanmar). Terusan Kra sudah sejak lama diidamkan untuk menjadi semacam “terusan Suez”-nya Asia, yang menghubungkan langsung jalur kapal antara bagian barat dunia dengan timur. Akan tetapi teknologi di masa lalu belumlah memungkinkan untuk dibangunnya terusan semacam itu. 

Terusan Kra menjadi heboh ketika keluar bocoran laporan Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld di tahun 2005, yang dilaporkan Washington Times, yang menyatakan adanya strategi China untuk membangun terusan senilai US$20 miliar melalui Tanah Genting Kra, lengkap dengan fasilitas pelabuhan China, sebagai bagian strategi penguasaan pangkalan dan keamanan energi. Dalam perkembangannya, pada saat ini Pemerintah Thailand berencana untuk membangun dan membuka Terusan Kra pada tahun 2010. Thailand telah menganggarkan dana sebesar US$ 21.2 miliar untuk pengerukan terusan tersebut. Praktis bila Terusan Kra ini dapat dibangun, maka lenyaplah sudah posisi strategis Selat Malaka dan Singapura sebagai hub internasional. Saat ini Selat Malaka sebagai jalur pelayaran sepanjang 612 mil merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, di mana sekitar 50 ribu kapal melintasi jalur ini setiap tahunnya dan hampir 80% keperluan minyak Jepang melalui jalur ini. Aktivitas jalur Selat Malaka menuju Selat Philips untuk transit di Singapura saat ini sudah terlampau padat. Lebar jalurnya hanya 1,5 mil, sementara ukuran kapal tanker dan kapal kargo yang melewatinya terbilang raksasa. Akibat padatnya aktivitas pelayaran ini, seringkali menimbulkan kemacetan dan berpotensi menimbulkan masalah. Bila nanti Terusan Kra selesai dikerjakan, maka akan berubahlah arus lalu lintas perdagangan dan pelayaran. Arus kapal-kapal niaga dari kawasan Eropa tidak perlu lagi harus melalui jalur Selat Malaka untuk menuju kawasan Asia Timur.

Hal ini akan mengubah total posisi geo-ekonomi dan geo-politik di Asia Tenggara. Singapura yang tadinya merupakan negara kecil makmur akibat posisi geografisnya tersebut, bisa-bisa kehilangan kemakmurannya dalam sekejap, dan tinggal menjadi negara biasa-biasa saja. Sebaliknya Thailand, Burma, Malaysia, Kamboja, Vietnam dan Indonesia bisa mendapat rezeki nomplok. Tapi apa yang bisa didapat Indonesia?

karte_golf_von_thailand.pngPosisi Strategis Sabang

Sambungan ke luar dan masuk dari Terusan Kra adalah pelabuhan Sabang di Aceh dan pelabuhan Bitung di Sulawesi Utara. Kedua-duanya sejak lama adalah pelabuhan alam yang sangat baik dan berkelas dunia. Pelabuhan Sabang memiliki kedalaman laut yang memadai bagi kapal-kapal besar berukuran 100.000 ton untuk merapat ke dermaga. Dibentengi oleh pulau Klah yang mampu menahan gempuran ombak sebesar apapun, termasuk oleh gempuran gelombang tsunami kala itu, membuatnya menjadi pelabuhan terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Pelabuhan Sabang, menurut penelitian, adalah satu dari lima pelabuhan alam terbaik di dunia. Sementara pelabuhan Bitung, kedalaman lautnya yang sampai 25 meter membuatnya dapat dirapati oleh kapal-kapal besar. Keduanya berada di jalur pintu masuk dan keluar Terusan Kra, sehingga punya potensi luar biasa sebagai pelabuhan bebas internasional yang akan punya posisi strategis.

Terutama kita perlu melihat Sabang. Pelabuhan Sabang sangat potensial menggantikan pelabuhan Singapura. Bayangkan bila kapal-kapal niaga maupun kapal-kapal kargo dari Terusan Kra hendak berlayar ke arah Afrika atau Asia Selatan lewat Laut Benggala atau Samudera Indonesia. Begitupun sebaliknya. Dalam waktu singkat, Sabang akan menjadi pelabuhan besar internasional dan kelas dunia yang jauh lebih baik dari Singapura. Singapura akan mati kutu. Pelabuhan Sabang adalah pelabuhan yang bebas pendangkalan, sehingga tidak memerlukan biaya pengerukan yang sangat mahal sebagaimana pelabuhan di Singapura. Sayangnya memang, pemerintah Indonesia sendiri yang belum serius atau mudah ‘dibeli’ Singapura, sehingga menelantarkan Sabang sebagai sebuah wilayah pelabuhan perdagangan internasional paling strategis. Sabang juga masih memerlukan banyak kelengkapan infrastruktur, seperti refinery, tangki minyak raksasa, dok terapung, gudang dan berbagai fasilitas lainnya, termasuk juga berbagai pusat pelayanan jasa. Dalam perspektif ke depan, bila Sabang dilengkapi dengan Batam, Bintan dan Karimun serta kepulauan Riau lainnya akan menjadi pusat perdagangan utama Indonesia, yang tidak kalah menariknya dibandingkan kota-kota pusat perdagangan China di pesisir seperti Guangzhou, Shanghai, Shenzen dan lain-lain. 

Karena itulah sampai sekarang Singapura (dan Malaysia) berusaha keras mencegah agar Sabang tidak menjadi apa-apa, karena mereka tahu potensi besar pelabuhan Sabang. Singapura saat ini masih menikmati “hak istimewanya” sebagai penguasa Selat Malaka. Singapura juga menjadi jumawa, karena dengan posisinya tersebut telah menjadi negara paling maju dan makmur di Asia Tenggara. Padahal Singapura sangat tergantung pada dua negara tetangganya, Indonesia dan Malaysia. Singapura sangat tergantung dengan pasokan air bersih dari Malaysia. Tiga puluh persen uang di Singapura sebenarnya dikuasai oleh orang-orang kaya Indonesia. Demikian pula Singapura menikmati berbagai kekayaan sumber alam dan pertanian Indonesia yang selalu lewat Singapura sebagai bahan mentah, yang kemudian mereka olah sebagai sumber pendapatan Singapura. Singapura menikmati pendapatan dari refinery (pengolahan) minyak mentah Indonesia yang kemudian dijual kembali ke Indonesia. Singapura juga menikmati coklat dan kopi mentah Indonesia yang kemudian diolah kembali untuk diekspor oleh Singapura. Singapura dengan fasilitas FTA (perjanjian perdagangan bebas) dengan AS, menguasai Batam, Bintan dan Karimun (BBK) sebagai wilayah produksinya yang bebas bea dan diekspor sebagai produk Singapura, dan tentu saja keuntungan bagi Singapura. Singapura juga mencoba ‘menjajah’ kawasan ekonomi khusus BBK sebagai kepanjangan teritori ekonominya yang serba sempit itu. Sayangnya orang-orang penguasa Indonesia mau saja dibodohi ataupun membodohi dirinya sendiri, yang penting dapat fee atau rente ekonomi untuk kantongnya sendiri saja.  

Sebenarnya posisi strategis Sabang dan Pulau We dalam kaitannya dengan pembukaan Terusan Kra sudah mulai diantisipasi oleh pemerintah. Pada masa pemerintahan Gus Dur, pemerintah memberlakukan UU no. 37 tahun 2000 tanggal 21 Desember 2000 yang memberlakukan kembali Sabang menjadi kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (free port). Ini kembali menghidupkan Sabang sebagai pelabuhan bebas sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Bung Karno lewat Perpres No. 22/1964 serta UU no. 10/tahun 1965 yang menetapkan Sabang sebagai free port untuk kurun waktu 30 tahun berikutnya. Sayangnya pemerintahan Orde Baru kemudian membekukan status tersebut karena adanya Gerakan Aceh Merdeka.  Bahkan karena adanya pembukaan pulau Batam sebagai kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, maka Sabang statusnya dimatikan berdasarkan UU No. 10 tahun 1985. Pada masa pemerintahan Megawati, telah dimulai pembangunan dermaga baru pelabuhan Sabang dalam mengantisipasi perkembangan tersebut. Akan tetapi kini hampir tidak terdengar lagi dorongan bagi penguatan Sabang. Bahkan pemerintahan SBY-JK lebih memprioritaskan FTZ BBK sebagai bagian dari manajemen Singapura, dan mendorong diundangkannya RUU KEK dalam waktu dekat ini, yang semakin tidak jelas maksud dan tujuannya, namun yang pasti pro kepentingan pemodal besar. 

KEK BBK mau kemana?

Karena itu mendiskusikan Free Trade Zone (FTZ) atau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) BBK, tidak akan lengkap bila tidak memasukkan Sabang sebagai sebuah strategi besar Indonesia dalam menghadapi perdagangan global kawasan. Sampai saat ini FTZ BBK hanya menjadi mainan pengusaha-pengusaha kroni-rente, dari sejak Suharto sampai SBY. Dari sebuah ide awal sebagai pesaing Singapura di masa-masa awal pemerintahan Orde-Baru, kian lama malah hanya diposisikan sebagai ‘halaman belakangnya’ Singapura. Semua triliunan rupiah uang negara untuk membangun BBK, tidak menjadi apa-apa. Sebagai FTZ, Batam gagal total, karena konsepnya tidak pernah jelas. FTZ BBK hanya menjadi wilayah khusus ekonomi rente bagi kelompok-kelompok yang punya akses di dalamnya. Banyak salah kaprah dalam pembangunan BBK, sehingga pada akhirnya malahan lebih besar investasi perusahaan dalam negerinya ketimbang perusahaan asing. Demikian pula keistimewaan bebas bea diberlakukan juga untuk orang-orang yang mendiami kawasan tersebut, sehingga mirip kawasan asing. Akhirnya salah kaprah ini membawa BBK sebagai kawasan ekonomi “antah-berantah”, karena tidak tahu mau ke mana. Kesalahan strategis!

Kini perlu ada koreksi mendasar atas kawasan BBK, serta menempatkannya dalam kesatuan strategis dengan kawasan Sabang. BBK bisa diposisikan kembali sebagai pusat refinery (pengolahan-pengilangan) minyak Indonesia, dan sebagai basis industri minyak PERTAMINA yang akan dapat menjadi perusahaan minyak kelas dunia. BBK harus dikuasai kembali dan diputus keterkaitannya dengan Singapura. BBK dikoneksikan secara strategis dengan Sabang sebagai pelabuhan bebas kelas dunia dan Aceh sebagai pusat perdagangan internasional menggantikan Singapura. 

Demikian pula konsep KEK yang saat ini didorong untuk segera menjadi UU KEK harus mampu menangkap arti strategis ke depan dari kawasan-kawasan strategis semacam itu. Celakanya KEK yang dimaksudkan saat ini hanya sebagai konsep perdagangan bebas yang membuka sebebas-bebasnya daerah-daerah strategis di Indonesia bagi eksploitasi modal dan pengerukan sumberdaya alam Indonesia, khususnya bagi korporasi dan investasi modal asing. Tidak ada strategi bagi wilayah-wilayah khusus di Indonesia, khususnya bagi daerah pelabuhan terdepan dan perbatasan internasional. Saat ini KEK disalahartikan sebagai pengembangan wilayah yang capital-driven, terutama foreign-capital driven dengan membuka surga bagi investasi asing seluas-luasnya. Salah kaprah ini bersifat strategis dan akan mendatangkan malapetaka ke depan. KEK yang diperlukan adalah hanya untuk wilayah-wilayah pelabuhan bebas yang strategis bagi kepentingan nasional dan yang mendatangkan sumber pendapatan melimpah bagi ekonomi nasional, bukan sebaliknya. Yang perlu dikembangkan selain kawasan Sabang dan Kepri, adalah kawasan-kawasan ekonomi khusus di sepanjang pantai utara Indonesia yang menghadap kawasan Pasifik, seperti Bitung dan Amurang di Sulawesi Utara, Morotai di Maluku Utara, serta Biak dan Sorong di Papua. Karena lokasinya yang dekat dengan kota-kota dagang di Asia Timur dan Pasifik, maka kawasan-kawasan ini akan dapat tumbuh pesat sebagai “Guangzhou-Shanghai-Shenzen”nya Indonesia, dan menjadi pusat-pusat kegiatan ekonomi baru nasional.

Hakul Yakin, dalam waktu tidak lama, Indonesia dan khususnya kawasan ujung selatan Sumatera akan memainkan peran strategis dalam perdagangan global. Indonesia harus bisa mencontoh keberhasilan kawasan pesisir China. Kawasan perdagangan bebas tidak berarti menjadi kawasan yang ‘dijajah’ dan dikuasai oleh negara-negara yang lebih maju, akan tetapi justru menjadi kawasan garda depan kekuatan perdagangan dan ekonomi nasional, yang akan memperkuat ekonomi Indonesia bagi kesejahteraan rakyatnya. ***  

Kepustakaan:
1.    KOMPAS, 23 Desember 2000; 29 Agustus 2001
2.    Wikipedia Indonesia